Thursday, 3 September 2015

Waduh! Es Batu pun Diberi Formalin

SURABAYA –  Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur mencurigai adanya zat formalin dalam es batu yang digunakan untuk mengawetkan ikan.

Temuan itu berawal dari hasil uji makanan olahan warga binaan dinas tersebut. Setiap mengadakan bazar, mereka selalu menguji makanan yang dipamerkan. Petugas pun terkejut. Ternyata, sebagian camilan hasil olahan ikan mengandung formalin.

"Kami temukan saat bazar di sini (Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim, Red) 8 Mei lalu," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim Heru Tjahjono Rabu (24/6).

Saat itu, para pelaku UKM membantah telah mencampur formalin pada makanan yang mereka olah. Para pengusaha tersebut juga merasa dirugikan oleh penemuan itu. Akhirnya, beberapa pengusaha melakukan penelitian.

Heru lantas menyebut seorang pengusaha camilan udang yang membeli bahan langsung dari tambak. Kemudian, dia membagi dua udang yang dibelinya. Satu diberi es batu dan satu lagi langsung diolah.

Rupanya, udang yang diberi es batu terlebih dahulu positif mengandung formalin. "Dia beli es batu dari penjual di dekat tambak. Sayang, es batunya tidak dibawa untuk kami uji coba," ungkap Heru.

Meski demikian, Heru belum berani menetapkan bahwa es batu itu benar-benar dicampur formalin. Untuk memastikannya, perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Khususnya, balok es yang digunakan untuk mengawetkan ikan.

Berdasar temuan itu, Heru akan melakukan beberapa langkah antisipatif. Yaitu, mengecek ikan-ikan yang masuk ke pelabuhan. Apabila ada es batu di sana, petugas akan melakukan pengecekan formalin. "Lebih mudah lagi kalau nelayan tahu tempat pembuatan es baloknya di mana karena es balok ini sulit dilacak siapa pembuatnya," tuturnya.

Ketika ditanya tentang es batu berformalin, pedagang ikan di Pabean mengaku tidak mengetahuinya. Mereka biasanya membeli es balok dari koperasi di pasar. "Kalau pakai es, ikannya bisa awet empat hari. Kalau tidak, ya dua hari saja sudah busuk," ujar Sukiman, salah seorang penjual ikan.

Sementara itu, petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Surabaya bertindak cepat dengan mengamankan produk yang positif mengandung bahan berbahaya. "Ada yang langsung dimusnahkan dan ada pula yang diambil petugas," terang Kepala BBPOM di Surabaya I Gusti Ngurah Bagus Kusuma Dewa.

Dia berharap masyarakat jeli memilih bahan makanan yang aman untuk dikonsumsi. Misalnya, ikan segar. Ciri ikan segar yang baik adalah bentuknya tidak lunak, matanya jernih, dan insangnya masih merah. ”Ikan yang tidak dihinggapi lalat sama sekali malah berbahaya. Karena bisa jadi mengandung formalin,” kata Bagus.

Formalin biasanya juga terdapat dalam tahu dan mi basah. Untuk mi, cirinya tidak lengket dan lebih mengkilat. Sementara itu, tahu berformalin tidak mudah hancur. ”Formalin digunakan agar makanan awet. Biasanya, lebih dari satu hari,” ucapnya. Bahaya formalin adalah bisa merusak organ dalam, kanker, bahkan mengakibatkan kematian.

Selain formalin, bahan kimia lain yang sering digunakan adalah boraks. Biasanya, boraks dicampur dalam mi basah, bakso, lontong, cilok, otak-otak, dan rambak. Tujuannya, makanan menjadi kenyal dan kerupuk lebih renyah. ”Bahayanya boraks sama dengan formalin. Bisa menyebabkan kematian,” bebernya. (SUMBER: m.JPNN.com)

CARA MENGETAHUI ADANYA FORMALIN

Kepala Balai Besar Badan Pengawasan Obat dan Makanan di Jakarta Dewi Prawitasari memberi tahu cara mengetahui makanan yang mengandung formalin.

"Kalau formalin atau boraks, memang harus ada pengujian setelah dimasak. Tidak bisa mentah," kata Dewi saat inspeksi di Rawamangun, Jakarta, Senin.

Ia mengatakan kandungan formalin pada makanan sulit diketahui dengan hanya mencium aromanya. Menurut dia, kandungan formalin pada makanan bisa diketahui dengan menaruh makanan selama tiga hari dalam ruangan bersuhu kamar, sekitar 25 derajat Celsius. Makanan yang mengandung formalin, seperti tahu, tidak rusak atau berlendir setelah tiga hari. "Tidak ada semut atau lalat yang mendekat," kata Dewi.

Ia menambahkan, tahu yang mengandung formalin umumnya berbau menyengat serta lebih kenyal dan tidak mudah hancur. Dewi menjelaskan pula bahwa mie basah yang mengandung boraks biasanya kenyal, tidak lengket dan terlihat lebih mengkilap. Sementara makanan yang mengandung pewarna tekstil, ia melanjutkan, warnanya mencolok dan menimbulkan titik-titik warna pada makanan.

Untuk langkah mudah, dapat digunakan TEST KIT FORMALIN yang akan membantu seseorang mendeteksi keberadaan formalin dalam makanan atau minuman. Detail info Test Kit Formalin dapat dibaca di LINK INI

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

No comments:

Post a Comment

THANKS SO MUCH FOR: Google Search Engine, GMail, Blogger.Com, Yahoo, Yahoo Mail, Wordpress, Blog Detik, IndoNetwork, Twitter, Facebook, and others that help me reach more useful things with internet