Tuesday, 30 December 2014

Hati-hati, Masih Ada Formalin di Makanan yang Dijual di Pasar

JOGJA— Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIY masih menemukan pewarna rhodamin dan pengawet formalin dalam makanan dan bahan makanan yang dijual di sejumlah pasar di DIY.

Hal itu ditemukan dalam pemeriksaan BPOM terhadap 50 sampel makanan di lima pasar besar yang tersebar di lima wilayah DIY. Dari hasil pemeriksaan tersebut, 26 sampel memenuhi syarat peredaran makanan dan sebanyak 24 sampel tidak memenuhi syarat.

Dari yang tidak memenuhi syarat, 83% sampel menggunakan rhodamin dan 17% lainnya menggunakan formalin. “Warga sebaiknya lebih berhati-hati ketika membeli bahan makanan,” katanya di Kompleks Kepatihan Danurejan, Jogja, Selasa (23/12/2014).

Bahan pewarna rhodamin ditemukan pada sejumlah produk makanan lokal seperti getuk lindri, lempeng, kerupuk, serondok, arumanis dan rengginang. Produk-produk tersebut umumnya berasal dari daerah di luar DIY seperti Kebumen, Kutoarjo dan Klaten, Jawa Tengah.

Bahan pengawet formalin ditemukan pada produk mi basah. Produk tersebut lagi-lagi berasal dari luar DIY seperti Magelang dan Klaten. Menurut Tri, BPOM sudah berkali-kali memeriksa produk makanan yang diproduksi di Jogja.

Dari hasil pemeriksaan, produk-produk Jogja sudah tidak lagi menggunakan formalin ataupun rhodamin.

“Ternyata pedagang-pedagang di pasar justru mengambil bahan dari luar Jogja dengan alasan lebih awet. Ya wajar lebih awet karena menggunakan formalin tapi berbahaya bagi tubuh,” kata Tri.

Untuk mengenal lebih jauh BAHAYA FORMALIN, Silahkan Anda baca artikel lengkap Detail Bahaya Formalin Terhadap Kesehatan di LINK INI

Sumber Artikel: harianjogja.com

Semua informasi terbaru tentang produk Easy Test dapat anda lihat di, WEBSITE EASY TEST atau di BLOG TEST KIT SHOP

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Hasil Uji Sampel, Sotong Kering Diduga Berformalin

PONTIANAK - Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperandagkop) dan UKM Kota Pontianak menggelar inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik oleh-oleh dan kuliner yang banyak dikunjungi konsumen, Sabtu (13/12/2014) sekitar pukul 15.00 WIB.

Sidak ini juga melibatkan Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kota Pontianak, Balai POM RI di Pontianak, serta Satpol PP Kota Pontianak.

Sidak pertama dimulai dari pusat oleh-oleh yang berada di Jl Sisingamangaraja, Pontianak, Kalimantan Barat. Sejumlah makanan untuk oleh-oleh seperti ikan asin jenis talang, teri, terasi sotong kering, cencalok, hingga udang ebi diuji sampel untuk menemukan kandungan formalin.

Namun dari sejumlah sampel tersebut, sementara ini hanya satu sampel yang dicurigai mengandung formalin, yaitu sotong kering.

Sidak dilanjutkan ke sejumlah tempat sepertu kuliner khas Aceh yang berada di Jl Tanjungpura, Mie Tiaw Daging Sapi Apollo, Bakso Salamullah di Jl RE Martadinat dan Bakso Raksasa di Jl Tebu. Barang yang diuji sampel di tempat-tempat ini negatif mengandung formalin.

Untuk mengenal lebih jauh BAHAYA FORMALIN, Silahkan Anda baca artikel lengkap Detail Bahaya Formalin Terhadap Kesehatan di LINK INI

Sumber Artikel: pontianak.tribunnews.com/.
Baca Artikel Terkait Ini Cara Menguji Kandungan Formalin pada Makanan

Semua informasi terbaru tentang produk Easy Test dapat anda lihat di, WEBSITE EASY TEST atau di BLOG TEST KIT SHOP

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Ini Cara Menguji Kandungan Formalin pada Makanan

PONTIANAK - Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperandagkop) dan UKM Kota Pontianak menggelar inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik oleh-oleh dan kuliner yang banyak dikunjungi konsumen, Sabtu (13/12/2014) sekitar pukul 15.00 WIB.

Sejumlah sampel yang dicek di lapangan, hanya berupa pengecekan sederhana. Sampel yang dihaluskan kemudian dimasukkan ke tabung reaksi yang dicampur dengan air putih. Setelah itu sampel dicampur dengan bahan kimia berupa pereaksi formalin.

Selanjutnya tabung reaksi digoyangkan beberapa menit untuk melihat reaksi kimia. Apabila air sampel berubah warna ungu maka kuat dugaan mengandung formalin.

Kepala Disperindagkop dan UKM Kota Pontianak, Dra Utin Sri Lena Candramidi MSi mengatakan, sidak yang dilakukan kali ini memberikan hasil yang memuaskan, karena pada umumnya barang yang diuji sampel tidak mengandung formalin.

Sementara menyikapi hasil tes dari sotong kering yang meragukan. Utin mengimbau agar untuk sementara masyarakat jangan membeli sotong kering di pusat oleh-oleh hingga hasil uji laboratorium diketahui.
"Dihimbau dahulu kepada masyarakat jangan membeli sotong kering dulu, karena tadi saat di uji ada perubahan warna ungu. Nanti mungkin senin depan hasil uji laboratoriumnya akan keluar untuk memastikannya," kata Utin.

Untuk mengenal lebih jauh BAHAYA FORMALIN, Silahkan Anda baca artikel lengkap Detail Bahaya Formalin Terhadap Kesehatan di LINK INI

Sumber Artikel: pontianak.tribunnews.com/
Baca artikel terkait Hasil Uji Sampel, Sotong Kering Diduga Berformalin

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Friday, 12 December 2014

Makanan Mengandung Zat Berbahaya Masih Beredar

SLEMAN - Produk makanan yang mengandung zat berbahaya seperti formalin, borax dan rhodamin B (zat pewarna tekstil) hingga sekarang masih ditemukan di pasar-pasar  tradisional.

Banyaknya makanan yang mengandung zat berbahaya membuktikan pengawasan Pemkab Sleman lemah. Temuan banyaknya makanan yang mengandung zat berbahaya ini setelah tim terpadu pemantau bahan berbahaya Pemkab Sleman bersama Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) DIY dan Balai Besar Veteriner DIY melakukan pemantauan ketersediaan barang di pasar Sleman, kemarin.

Hasilnya, beberapa makanan diketahui mengandung zat berbahaya, seperti mie basah yang mengandung formalin serta rengginang dan kerupuk mengandung pewarna rhodamin. Kepala Dinas Perindustrian Per dagangan da Koperasi (Dispe rindagkop) Sleman, Pustopo, mengatakan dari hasil pantaun masih menemukan ada makanan yang mengandung pengawat dan pewarna yang tidak diperbolehkan, seperti formalin dan rhodamin.

Untuk itu, sebagai tindakanlanjut dari temuan ini, selain memberi pemahanan kepada pedagang tentang makanan sehat, juga dengan menghentikan mata rantai peredaran makanan tersebut. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Mafilindati Nuraini, mengatakan makanan yang mengandung formalin dan zat pewarana itu sangat berbahaya jika dikonsumsi.

Menurutnya, dampak dari konsumsi zat berbahaya ini tidak dapat dirasakan langsung namun setelah akumulasi konsumsi dalam jumlah yang besar.

Artikel diambil dari koran-sindo.com di link ini.

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Monday, 8 December 2014

Mie Berformalin di Sleman

SLEMAN — Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Pustopo mengatakan akan melakukan pembinaan kepada para pedagang di pasar yang diketahui produk jualannya mengandung bahan berbahaya. Terlebih, kata Pustopo, kepada para penjual mi basah.

Pustopo menjelaskan, dari hasil inspeksi mendadak (Sidak) yang dilakukan tim terpadu pemantauan bahan berbahaya kabupaten Sleman belum lama ini, mie basah merupakan produk yang banyak ditemui mengandung bahan berbahaya. Menurut dia, setelah dilakukan uji laboratorium, mi basah mengandung formalin.

“Kami temukan di semua pasar lokasi sidak,” ujar Pustopo, kepada wartawan di sela-sela acara puncak acara KOPRI di gedung serbaguna Pemkab Sleman, Jumat (5/12).

Dengan tegas, ia mengatakan tidak ingin terdapat makanan yang mengandung bahan berbahaya. Apalagi seperti mi basah, tutur Pustopo, merupakan makanan yang disukai dari anak-anak sampai dewasa.

Selain mi basah yang banyak ditemukan saat dilakukan sidak ke tujuh pasar di Sleman, kata Pustopo, makanan kering seperti kerupuk diketahui mengandung zat pewarna. Cendol dawet tim juga menemukan mengandung bahan berbahaya yang sama.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pihaknya juga konsen terhadap pengawasan produk yang kedaluwarsa. Meskipun saat sidak ditemukan beberapa produk kedaluwarsa, ia mengakui tidak melakukan penyitaan.

Menurut Pustopo, pembinaan akan terlebih dahulu dilakukan daripada langsung menyita produk tersebut. Namun, ketika ditanya cara penanganan dengan mengutamakan pembinaan tidak akan membuat jera pedagang, Pustopo, mengaku akan coba terus dilakukan. “Nanti setiap minggu akan ada operasi secara rutin, tapi masih nunggu hasil resmi dari BPOM,” katanya.

Sumber artikel: republika.co.id di link ini

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Thursday, 27 November 2014

BBPOM Pontianak Musnahkan 1.1 Ton Mie Kuning Megandung Formalin

PONTIANAK - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Pontianak melakukan pemusnahan mi kuning basah yang mengandung formalin dan boraks. Sebanyak 1,1 ton mi kuning dimusnahkan dengan cara dikubur di lahan kosong depan halaman Kantor BBPOM Pontianak, Selasa (18/11/2014).

Pemusnahan tersebut dilaksanakan berdasarkan penetapan dari ketua pengadilan Negeri Pontianak nomor : 05/Pend. Pid /2014/ PN. Ptk tanggal 17 November 2014.  Dengan barang bukti sebanyak 218 kantong per 5 kilo mi kuning basah dan 2 kantong disishkan sebagai barang bukti di pengadilan.



Kepala BBPOM Pontianak Corry Panjaitan yang menyaksikan langsung pemusnahan tersebut, mengatakan, mi kuning yang dimusnahkan merupakan tindak lanjut dari penangkapan yang dilakukan 6 November lalu.

"Kita musnahkan berdasrkan hasil uji tes dan secara lab terhadap mi kuning yang kita temukan ini positif mengandung formalin dan boraks. Lalat aja tidak mau hinggap walaupun bau busuk dari tersebut kian menyengat, " ujar Corry.

Sumber artikel dan gambar: Website TribunNews di LINK INI

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Gerakan Pasar Ikan Bebas Formalin di Pasar Ikan Rejomulyo Semarang

Terkait dengan masih maraknya penyalahgunaan formalin pada hasil perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dalam hal ini Ditjen P2HP gencar melakukan evaluasi dan monitoring ke pasar-pasar ikan terhadap penggunaan bahan berbahaya tersebut. Salah satu pasar ikan yang dilakukan pengecekan adalah pasar ikan Rejomulyo di Kota Semarang atau yang lebih dikenal sebagai pasar ikan Kobong pada Rabu malam (12/11).  Monitoring penggunaan formalin  ini merupakan bagian dari gerakan “Pasar Ikan Bebas Formalin” yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan Bulan Mutu Perikanan  selama bulan November.

Sebagaimana diketahui ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat mengalami proses pembusukan. Oleh sebab itu cara pengawetan ikan yang baik dan benar perlu diketahui semua lapisan masyarakat  sehingga masyarakat tidak melakukan pengawetan ikan dengan cara-cara yang tidak benar dan atau melanggar hukum seperti pengawetan ikan dengan menggunakan bahan kimia formalin.

Formalin merupakan salah satu jenis pengawet yang sangat berbahaya. Apabila tertelan sebanyak 2 sendok makan atau 30 mL saja, formalin bisa menyebabkan kematian. Gejala yang ditimbulkan jika formalin tertelan adalah mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah, diare, kemungkinan terjadi perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi, kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu, juga bisa menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Formalin juga bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) jika telah terakumulasi dalam jumlah yang cukup banyak.

Bahaya penggunaan formalin perlu disosialisasikan secara terus-menerus karena sering terjadi produk-produk perikanan yang mengandung formalin tanpa sadar dikonsumsi masyarakat luas karena ketidaktahuan bagaimana membedakan ikan yang berformalin atau tidak. Secara umum, ciri-ciri ikan yang mengandung formalin adalah warna insang merah tua dan tidak cemerlang (bukan merah segar), warna daging ikan putih bersih, bau menyengat, bau formalin, dan kulit terlihat cerah mengkilat, daging kenyal, lebih awet dan tidak mudah busuk walau tanpa pengawet seperti es, tidak dihinggapi lalat dan tidak terasa bau amis ikan. Sementara, ciri ikan segar tanpa formalin adalah: warna ingsang merah dan cemerlang dan terlihat segar, Bau ikan khas dan segar, lebih mudah busuk bila tanpa diawetkan terus dengan es, Ikan dapat dihinggapi lalat.

Kementerian Kelautan dan Perikanan juga bekerjasama dengan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan kajian bersama yang menghasilkan fatwa MUI nomor 43 Tahun 2012 tentang Penyalahgunaan Formalin dan Bahan Berbahaya Lainnya dalam Penanganan dan Pengolahan Ikan. Inti dari fatwa ini adalah penggunaan formalin dan bahan berbahaya lainnya dalam penanganan dan pengolahan ikan basah maupun kering membahayakan kesehatan dan jiwa serta hukumnya haram. Fatwa haram ini juga meliputi orang yang memperdagangkan ikan dan produk perikanan yang mengandung formalin. Penerbitan fatwa ini diharapkan dapat menyadarkan para produsen, pedagang, serta konsumen mengenai bahaya penggunaan formalin dalam makanan.

Sebagai bagian dari Bulan Mutu Perikanan, Gerakan Pasar Ikan Bebas Formalin ini diharapkan dapat menjadi media sosialisasi dan penyuluhan agar para pedagang ikan dan konsumen semakin cerdas untuk tidak menggunakan formalin dan bahan kimia berbahaya lainnya sebagai pengawet.

Sumber artikel dan gambar: Website P2HP di LINK INI

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Tuesday, 18 November 2014

Datang Pakai Heli, Susi Disambut Makanan Bebas Formalin Khas Berau

Berau - Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, sudah tiba di Berau, Kalimantan Timur. Susi tiba menggunakan helikopter dari Pontianak.

Tiba sekitar pukul 10.20 WITA, Susi terlihat mengenakan kemeja biru berbalut blazer hitam. Tak lupa dengan topi lebar yang sering dipakai noni Belanda zaman dulu.

Susi disambut oleh Bupati Berau, Makmur. Jajaran DPRD juga menyambutnya. Susi juga sempat mencoba makanan khas Berau, yang merupakan olahan ikan.

"Saya sering dapat SMS dari nelayan. Katanya, 'Bu Susi kalau ke sini jangan bawa formalin, tapi es'. Maksudnya makanan di sini dijamin tanpa formalin," kata Susi di Berau, Minggu (16/11/2014).

Dari Bandara Tanjung Redeb, Susi bertolak ke Pelabuhan Tanjung Batu dengan menggunakan bus.

Sumber ertikel: detik.com (link ini)

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

BPOM: 11 Pasar Bebas Formalin-Boraks

GAMBIR – Makanan mengandung formalin dan boraks sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Biasanya bahan berbahaya itu terdapat pada makanan yang dijual di pasar-pasar tradisional. Namun, PD Pasar Jaya berusaha menepis kabar tersebut. Perusahaan milik pemprov itu bahkan menetapkan 11 pasar tradisional sebagai percontohan pasar bebas formalin dan boraks.

Sebelas pasar itu adalah Pasar Cibubur, Tebet Barat, Johar Baru, Koja Baru, Grogol, Minggu, Tomang Barat, Senen Blok VI, Rawamangun, Sunter, dan Pasar Manggis. Direktur Utama PD Pasar Jaya Djangga Lubis mengatakan, upaya melindungi pasar tradisional dari makanan mengandung formalin baru digalakkan pada Juni lalu. Sebagian petugas PD Pasar dilatih Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mengidentifikasi makanan berbahaya. Petugas yang telah terlatih itu ditempatkan di pasar-pasar. Mereka akan memantau pedagang yang kedapatan menjual makanan berformalin. ”Petugas pasar membeli sampel makanan yang dicurigai mengandung bahan berbahaya," ujarnya di balai kota Jumat (14/11). Secara umum, formalin kerap ditemukan pada jajanan pasar, tahu, mi, ikan, dan daging ayam.

Sementara itu, Asisten Manajer Subbidang Pemberdayaan Pedagang Marnaek Manurung menambahkan, 11 pasar tradisional yang menjadi percontohan itu kini dikontrol ketat PD Pasar Jaya. Meski sudah ditetapkan sebagai pasar percontohan, tidak tertutup kemungkinan ada pedagang nakal yang berupaya mengelabui petugas. Dia berjanji menindak tegas pedagang yang masih membandel. ”Sanksinya ya bisa sanksi sosial. Misalnya, kami publikasikan di papan pengumuman, kami tulis aja, kios si A menjual makanan yang mengandung formalin dan boraks,” ujarnya.

Dia mengakui, peredaran bahan berbahaya seperti formalin dan boraks di pasar tradisional sulit dikendalikan. Berdasar keterangan pedagang, kata Manurung, dagangan yang mengandung formalin itu dibeli dari pengusaha lain yang memproduksi bahan pangan dalam jumlah besar. Saat dibeli, pedagang tidak tahu ada kandungan formalin dan zat berbahaya lain dalam makanan itu. Padahal, transaksi jual beli menggunakan sistem beli putus. Artinya, tidak ada ikatan apa pun antara pengusaha dan pedagang pasar. ”Kegiatan mereka (pengusaha) yang nakal itu sangat terorganisasi. Makanya, sulit distop,’’ tuturnya.

Secara terpisah, Kepala BPOM DKI Dewi Prawitasari mengapresiasi pelibatan BPOM dalam pengawasan peredaran bahan berbahaya di pasar. Dia berharap, setelah petugas PD Pasar Jaya dilatih khusus, kontrol terhadap peredaran makanan berbahaya semakin ketat. ”Kami berharap para pedagang mengurungkan niatnya menjual makanan berformalin atau mengandung boraks,” ujarnya.

Sumber ertikel: jpnn.com (link ini)

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Kementerian Kelautan Perikanan Awasi Penggunaan Formalin di Semarang

SEMARANG - Direktur Pengolahan Hasil Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan Abdul Rokhman memimpin langsung pengawasan penggunaan bahan kimia berbahaya jenis formalin pada ikan di Pasar Ikan Rejomulyo Semarang, Rabu (12/11) malam.

Saat berada di pasar ikan terbesar di Kota Semarang, Abdul Rokhman meminta sejumlah staf yang mendampinginya untuk mengambil contoh ikan segar dari lapak pedagang agar bisa diperiksa apakah mengandung formalin atau tidak.

Staf dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan kemudian mengambil masing-masing satu ekor ikan kembung, ikan tiga waja, dan cumi-cumi untuk kemudian dicek oleh beberapa petugas Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Semarang.

Hasil pengecekan petugas dengan menggunakan alat khusus pada dua contoh jenis ikan dan cumi-cumi yang diambil secara acak dari pedagang tersebut tidak menunjukkan ada kandungan formalin.

Abdul Rokhman mengatakan monitoring penggunaan formalin pada ikan yang dijual para pedagang di Kota Semarang dalam rangka Bulan Mutu Perikanan selama November 2014 untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya mutu serta keamanan hasil perikanan.

"Inti dari program yang dicanangkan Menteri Kelautan dan Perikanan RI pada 19 Oktober 2014 adalah menyadarkan masyarakat, termasuk pelaku usaha dan konsumen tentang arti mutu serta jaminan keamanan bagi kesehatan masyarakat," katanya.

Ia menjelaskan formalin yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi itu, sekarang banyak disalahgunakan sebagai pengawet bahan makanan termasuk hasil perikanan. "Jika dikonsumsi manusia, formalin dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan saraf pusat, dan ginjal, serta penyebab kanker jika telah terakumulasi dalam jumlah yang cukup banyak," ujarnya.

Menurut dia, ciri-ciri ikan segar tanpa formalin adalah warna insang merah terang, berbau amis segar, mudah busuk, dan dihinggapi lalat.

Sumber ertikel: REPUBLIKA.CO.ID (link ini)

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Tuesday, 11 November 2014

Takut Formalin, Warga Antusias Periksa Makanan

Mojokerto - Puluhan warga menyerbu stand Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Surabaya yang digelar di depan pintu masuk Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto. Warga ingin mengetahui kandungan makanan yang baru dibelinya dengan memeriksakan ke Balai Besar POM.

Salah satu warga, Sri menuturkan, ia tertarik memeriksakan barang makanan yang baru ia beli untuk mengetahui mengandung bahan pengawet apa tidak. "Saya tadi beli ayam, saya ingin tahu ada bahan pengawetnya apa tidak. Katanya hasilnya langsung diketahui tapi saya diminta menunggu," ungkapnya, Selasa (11/11/2014).

Hal yang sama diungkapkan, Sutiani warga Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. "Saya memeriksakan petis yang mengandung formalin apa tidak karena setiap hari saya menggunakan petis. Saya jualan gorengan, bumbunya menggunakan bahan petis ini," katanya.

Sementara warga lainnya, Hermin mengatakan, ia juga penasaran dengan makanan yang baru ia beli untuk diperiksa petugas Balai Besar POM Surabaya. "Saya periksakan ikan asin yang saya beli di pasar barusan, saya juga penasaran mengandung formalin apa tidak," urainya.

Sejumlah petugas dari Balai Besar POM Surabaya masih melakukan pemeriksaan terhadap makanan dan minuman yang dibawa warga. Balai Besar POM Surabaya sengaja didatangkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-50 di depan Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto.(tin/ted, Sumber: beritajatim.com)

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Sunday, 9 November 2014

Inilah Makanan yang Sering Dicampur dengan Formalin

Jakarta - Penyalahgunaan bahan kimia pengawet mayat formalin, kerap digunakan untuk membuat beberapa produk makanan lebih menarik dan awet. Bahkan, ada tiga besar produk pangan yang sering dicampur formalin.

"Temuan BPOM, penyalahgunaan formalin 50 persen digunakan untuk mi, lalu tahu, dan produk perikanan yaitu pangan olahan ikan seperti pempek itu sering ditemui karena bahan bakunya, bahan laut seperti ikan itu kadang ada yang sudah mengandung formalin kan," kata kepala BPOM Roy Sparringa.

Maka dari itu, untuk mengatasi peredaran produk pangan bercampur formalin, menurut Roy akan lebih efektif jika diselesaikan di hulu. Sebab, jika di hilir dalam artian ketika produk sudah tersebar di masyarakat, akan lebih sulit, demikian diungkapkan Roy saat ditemui di Gedung Kemenkes, Kuningan.

Peran kepala daerah pun dirasa Roy penting untuk mengawasi dan memperketat retail atau distribusi bahan berbahaya seperti formalin. Roy mengatakan, kepala daerah masing-masing memiliki kewenangan untuk mendaftar dan mencatat bahan berbahaya yang didistribusikan.

"Lalu pastikan yang beli adalah mereka yang berhak. Artinya kalau untuk keperluan indutri, mana buktinya dan betul nggak kebutuhan mereka sekian. Kita juga bisa libatkan dinas terkait, dinas perdagangan dan perindustrian lalu diaudit," tutur Roy.

"Dengan begitu, jumlah distribusi dan penggunaan bahan berbahaya bisa dihitung dan jika jumlahnya tidak cocok, maka harus ada yang bertanggung jawab. Penting pula untuk hukumnya juga harus lebih ditegakkan lagi," imbuhnya.

Bagi masyarakat, Roy menekankan perlu ada kewaspadaan terutama saat mereka membeli produk pangan terutama mi basah. Jika tidak lengket dan warnanya mengkilat, Anda patut curiga.

"Apalagi kalau mi itu tahan lama di dalam suhu kamar, harus curiga karena mestinya cepat rusak. Kalau warna tergantung diberi warna apa kan, jadi tidak bisa dijadikan patokan," ucap Roy.

Dicontohkan Roy, beberapa waktu lalu tahun ini BPOM menemukan 5 industri yang memproduksi mi berformalin di Bandung dengan jumlah sebelumnya 8 industri. Sedangkan Jumat lalu, BPOM menemukan industri mi berformalin di Desa Nanggerang, Kecamatan Tajurhalang, Kabupaten Bogor yang beromzet 6 ton per hari. Dikatakan Roy, mi berformalin tersebut didistribusikan ke beberapa pasar di Jakarta, Depok, dan Bogor.

Sumber: http://www.108jakarta.com/lifestyle/2014/11/06/45781/Inilah-Makanan-yang-Sering-Dicampur-dengan-Formalin

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Tuesday, 4 November 2014

BPOM Cek Produk Tempe Yang Diduga Pakai Pengawet

MANOKWARI – Badan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Manokwari, Kamis (23/10)  melakukan pengecekan dan pemeriksaan di Distrik Prafi terkait laporan penggunaan bahan pengawet dalam pembuatan tempe sehingga mampu bertahan hingga 2 minggu. Lukas Doso Nugroho, S,Si, Apt salah satu staf BPOM menyatakan, informasi penggunaan bahan pengawet pembuatan tempe ini bersumber dari masyarakat. “Ada info dari masyarakat bahwa ada tempe yang bertahan sampai 2 minggu kami coba telusuri kira-kira kandungan apa yang ada di dalamnya sehingga bisa bertahan lama.

Apakah pengawet yang aman atau tidak. Karena ada pengawet secara aman yang secara hukum diperbolehkan,” jelas Lukas ketika bertindak sebagai narasumber pada acara Bimtek Makanan Dan Mutu Pangan Jajanan Anak Sekolah, di Billy Jaya Hotel, kemarin.
Sementara itu, tentang bahan makanan lain yang berbahaya bagi kesehatan, Lukas mengakui, dalam kurun waktu 2012-2014, BPOM Manokwari menemukan boraks dalam pengawetan.

Namun untuk penjualan makanan yang menggunakan bahan pengawet kayu ini, belum  ditemukan baik di pasar Sanggeng maupun Wosi.“Saat kami dari BPOM belum lakukan pemeriksaan atau turun lapangan masih dijual secara terang-terangan namun setelah kami turun lapangan mereka lalu melakukan penjualan secara sembunyi-sembunyi, dengan alasan masih ada pembeli,” beber Lukas.¨Konsep BPOM, lanjut Lakus, melakukan pengawasan pasar dan memberdayakan masyarakat dengan tidak membeli bahan makanan yang mengandung pengawet yang tidak sehat. Karena menurutnya, jika tidak ada yang beli maka penjual tidak akan menjual.

Namun diakuinya, masih sulit untuk memberantas sampai tuntas karena kebiasaan pembuat kerupuk masih menggunakan boraks masih ada. 
Lukas menjelaskan, boraks adalah bahan pengawet kayu dan antiseptik pengontrol kecoa. Fungsi hampir sama dengan pestisida. Boraks berbentuk kristal putih tanpa bau dan mudah larut dalam air. Digunakan secara ilegal dalam industri makanan bakso dan kerupuk, karena mampu memberi efek bagus pada tekstur makanan. Bakso dengan boraks menjadi kenyal, renyah, dan tahan lama. Kerupuk dengan boraks pun lebih renyah dan empuk. padahal, boraks adalah bahan pembersih dan pengawet kayu, dengan fungsi antiseptik. Boraks bisa menyebabkan gangguan otak, hati, lemak, dan ginjal.

“Di Sorong kita sudah temukan boraks tapi bentuknya orange kayak batu berbeda dengan yang lain, disebut batuki. Kami sudah tegur pedagang dan penjual tersebut sehingga tidak jualan lagi. Namun tetap kami awasi karena katanya masih ada pembeli sehingga bisa saja masih dijual,” ungkap Lukas lagi. ¨Lukas menambahkan, prinsip mereka dari BPOM untuk masalah seperti ini adalah dengan memberi peringatan dan pembinaan. “Jika ketahuan pertama dan kedua kita peringati jika tidak ditanggapi kita proses hukum seperti pada kasus kosmetik yang menggunakan bahan pengawet juga. Ada 9 orang dan saat ini telah diputus di PN,” tukasnya. (lm)

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Ciri-ciri pangan mengandung methanil yellow dan rhodamine b

Ciri-ciri pangan yang mengandung rhodamin B antara lain:
  1. warnanya cerah mengkilap dan lebih mencolok;
  2. terkadang warna terlihat tidak homogen (rata),  ada gumpalan warna pada produk;
  3. bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit; 
  4. biasanya produk pangan yang mengandung Rhodamin B tidak mencantumkan kode, label, merek, atau identitas lengkap lainnya.
Menurut WHO, rhodamin B berbahaya bagi kesehatan manusia karena sifat kimia dan kandungan logam beratnya. Rhodamin B termasuk bahan karsinogen (penyebab kanker) yang kuat. Konsumsi rhodamin B dalam jangka panjang dapat terakumulasi di dalam tubuh dan dapat menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, gangguan fisiologis tubuh, atau bahkan bisa menyebabkan timbulnya kanker hati. Rhodamin B juga dapat menimbulkan efek akut jika tertelan sebanyak 500 mg/kg BB, yang merupakan dosis toksiknya dan efek toksik yang mungkin terjadi adalah iritasi saluran cerna, cirinya air seni akan berwarna merah atau merah muda.

Methanil yellow merupakan zat warna berbentuk serbuk, berwarna kuning kecoklatan, larut dalam air, agak larut dalam aseton. Metanil Yellow adalah pewarna asam monoazo, dengan rumus kimia C18H14N3O3SNa. Zat pewarna ini diseting untuk digunakan di industri tekstil, penyamakan kulit, kertas, sabun, kosmetik, dan lilin terutama untuk tujuan memberikan warna kuning cerah pada produknya. Pewarna ini banyak digunakan untuk beberapa produk seperti tahu, manisan mangga, atau agar-agar yang sering dijual untuk jajanan anak sekolah.

Ciri-ciri pangan yang mengandung methanil yellow antara lain:
  1. warnanya kuning mencolok dan kecenderungan warnanya berpendar.;
  2. banyak memberikan titik-titik warna yang tidak merata dan terkadang warna terlihat tidak homogen (rata) seperti pada kerupuk;
  3. bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit;
Pemakaian methanil yellow dapat menimbulkan iritasi pada pencernaan. Toksikosis kronis jangka panjang Metanil Yellow sangat membahayakan sistem tubuh manusia, tidak hanya ginjal dan gagal hati tapi kadang-kadang dapat menghasilkan karsinoma. Apabila tertelan, bisa menyebabkan mual, muntah, sakit perut, diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah.

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Bahan Tambahan Pangan Berbahaya

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor : 1168/Menkes/Per/X/1999 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/per/IX/1988 Tentang Bahan Tambahan Makanan, bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan adalah : Asam Borat (Boric Acid) dan senyawanya, Asam Salisilat dan garamnya (Salicylic Acid and its salt), Dietilpirokarbonat (Diethylpirocarbonate DEPC), Dulsin (Dulcin), Kalium Klorat (Potassium Chlorate), Kloramfenikol (Chloramphenicol), Minyak Nabati yang dibrominasi (Brominated vegetable oils), Nitrofurazon (Nitrofurazone), Formalin (Formaldehyde), Kalium Bromat (Potassium Bromate)

Di dalam industri pangan, terutama industri rumah tangga yang pengetahuan mereka masih terbatas, penggunaan bahan tambahan yang berbahaya masih sering dilakukan (Anggrahini, 2007). Bahan tambahan berbahaya yang paling sering ditambahkan produsen adalah zat pewarna Rhodamine B dan Methanyl yellow, pemanis buatan siklamat dan sakarin, serta pembuat kenyal berupa formalin dan boraks (Didinkaem, 2007).

FORMALIN

Formalin, dengan rumus kimia CH2O merupakan suatu larutan yang tidak berwarna, berbau tajam yang mengandung lebih kurang 37% formaldehid dalam air dan biasanya ditambahkan metanol 10-15% sebagai pengawet.

Formalin tidak diizinkan ditambahkan ke dalam bahan makanan atau digunakan sebagai pengawet makanan, tetapi formalin mudah diperoleh dipasar bebas dengan harga murah. Adapun landasan hukum yang dapat digunakan dalam pengaturan formalin, yaituUU Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, UU Nomor 7 tahun 1996 tentang Pangan, UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Kepmenkes Nomor1168/Menkes/Per/X/1999 tentang Bahan Tambahan Makanan, dan SK Memperindag Nomor 254/2000 tentang Tataniaga Impor dan Peredaran Bahan Berbahaya (Anonim, 2012).

Formalin memiliki banyak kegunaan dan digunakan secara luas dalam berbagai bidang, diantaranya:
  • Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang, dan pakaian.
  • Pembasmi lalat dan berbagai serangga lain.
  • Bahan pada pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca, dan bahan peledak.
  • Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas.
  • Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea.
  • Bahan untuk pembuatan produk parfum.
  • Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku.
  • Pencegah korosi untuk sumur minyak.
  • Bahan untuk insulasi busa.
  • Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood).
  • Cairan pembalsam ( pengawet mayat )
  • Dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1% ) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pemcuci piring, pelembut, perawat sepatu, sampo mobil, lilin dan pembersih karpet. (Fajar, 2013)
  • Pengawet ini memiliki unsur aldehida yang bersifat mudah bereaksi dengan protein, karenanya ketika disiramkan ke makanan seperti tahu, formalin akan mengikat unsur protein mulai dari bagian permukaan tahu hingga terus meresap kebagian dalamnya. Dengan matinya protein setelah terikat unsur kimia dari formalin maka bila ditekan tahu terasa lebih kenyal . Selain itu protein yang telah mati tidak akan diserang bakteri pembusuk yang menghasilkan senyawa asam, Itulah sebabnya tahu atau makanan berformalin lainnya menjadi lebih awet (Aras, 2013).
Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sukar menelan, mual, sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, mencret darah, timbulnya depresi susunan syaraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah) dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.

Deteksi formalin secara akurat baik secara kualitatif maupun kuantitatif hanya dapat dilakukan di laboratorium. Namun demikian, untuk menghindarkan terjadinya keracunan, masyarakat harus dapat membedakan bahan/produk makanan yang mengandung formalin dan yang sehat.

BORAKS

Borak merupakan garam natrium yang banyak digunakan di berbagai industri non pangan, khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Namun saat ini banyak pula digunakan oleh para pembuat dan penjual bakso, mie ayam, dan berbagai jenis makanan lainnya. Penambahan ini bertujuan agar produk makanan tersebut memiliki sifat tekstur lebih kenyal sehingga menambah sensasi kenikmatan ketika disantap (Saifudin, 2008).

Di industri farmasi boraks digunakan sebagai ramuan bahan baku obat seperti bedak, larutan kompres, obat oles mulut, semprot hidung, salep dan pencuci mata. Bahan hasil industri farmasi tersebut tidak boleh diminum karena beracun (Winarno, 1997). Boraks digunakan oleh masyarakat dan industri kecil untuk pembuatan gendar, kerupuk rambak tiruan, mie dan bakso. Boraks secara local dikenal sebagai air bleng atau cetitet, garam bleng atau pijer. Boraks sebetulnya sudah dilarang penggunaannya oleh pemerintah sejak Juli 1978 dan diperkuat lagi melalui SK Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/Per/IX/1988 (Winarno, 1997).

Boraks sangat bahaya jika terhirup, mengenai kulit, mata dan tertelan. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa iritasi pada saluran pencernaan, iritasi pada kulit dan mata, mual, sakit kepala, nyeri hebat pada perut bagian atas. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menyebabkan kerusakan ginjal, kegagalan sistem sirkulasi akut bahkan kematian. Konsumsi boraks 5-10 gram oleh anak-anak dapat menyebabkan shock dan kematian.

PEWARNA BUATAN (RHODAMINE B DAN METHANIL YELLOW)

Penggunaan pewarna sintetis di industri makanan saat ini sangat besar, hampir 90% industri makanan memilih menggunakan pewarna sintetis hal ini dikarenakan harga yang terjangkau dan kepraktisannya.  Pewarna buatan atau sintetis merupakan zat aditif yang ditambahkan pada makanan yang bertujuan untuk memperbaiki warna dari makanan.. Pewarna buatan atau sintetis untuk makanan diperoleh melalui sintesis kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi.

Menurut Permenkes RI No.033 Tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, pewarna sintetis yang diperbolehkan yaitu Tartrazin CI. No. 19140 (Tartrazine), Kuning kuinolin CI. No. 47005 (Quinoline yellow), Kuning FCF CI. No. 15985 (Sunset yellow FCF), Karmoisin CI. No. 14720 (carmoisine), Ponceau 4R CI. No. 16255 (Ponceau 4R), Eritrosin CI. No. 45430 (Erythrosine),  Merah allura CI. No. 16035 (Allura red),  Indigotin CI. No. 73015 (Indigotine), Biru berlian FCF CI No. 42090 (Brilliant blue FCF), Hijau FCF CI. No. 42053 (Fast green FCF), Coklat HT CI. No. 20285 (Brown HT).  Namun demikian harus diperhatikan bahwa pewarna buatan dapat membahayakan kesehatan apabila ditambahkan dalam jumlah berlebih pada makanan atau dalam jumlah kecil namun dikonsumsi secara terus menerus dalam jangka waktu lama. Sedangkan pewarna makanan buatan yang tidak aman dan tidak layak untuk dikonsumsi adalah Rhodamin B dan Methanil Yellow yang merupakan pewarna tekstil.

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Peran Penyuluh Dalam Menyuluh Bahaya Penyalahgunaan Formalin Dan Bahan Berbahaya Lainnya Dalam Penanganan Dan Pengolahan Ikan

Jelang Hari Ikan Nasional yang jatuh pada tanggal 21 November 2014, penyuluh perikanan diharapkan semakin meningkatkan penyuluhan agar masyarakat gemar makan ikan.  Selain itu, lebih disosialisasikan pula Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 42 Tahun 2012 tentang Penyalahgunaan Formalin dan Bahan Berbahaya Lainnya dalam Penanganan dan Pengolahan Ikan. Salah satu rekomendasi yang MUI sampaikan dalam fatwa tersebut ditujukan kepada Pemerintah adalah perlunya penyuluhan dan edukasi kepada pelaku usaha dana masyarakat mengenai larangan dan bahaya penggunaan formalin dan bahan berbahaya lainnya pada hasil perikanan. Rekomendasi lainnya disampaikan untuk pelaku usaha perikanan.

Apa itu Formalin? Dari berbagai literatur Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.  Di dalam larutan formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air dan merupakan anggota paling sederhana dan termasuk kelompok aldehid dengan rumus kimia HCHO.  Formalin biasanya diperdagangkan di pasaran dengan nama berbeda-beda antara lain yaitu: Formol, Morbicid, Methanal, Formic aldehyde, Methyl oxide, Oxymethylene, Methylene aldehyde, Oxomethane, Formoform, Formalith, Karsan, Methyleneglycol, Paraforin, Polyoxymethylene glycols, Superlysoform, Tetraoxymethylene, dan Trioxane.

Dampak formalin pada kesehatan manusia, dapat bersifat akut dan kronik.

a. Akut  (efek pada kesehatan manusia terlihat langsung).
  1. Bila terhirup akan terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. Kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru dan pembengkakan paru. Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
  2. Bila terkena kulit akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
  3. Bila terkena mata akan menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
  4. Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma.  Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.

b. Kronik  (setelah terkena dalam jangka waktu yang lama dan berulang).
  1. Apabila terhirup dalam jangka waktu lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru. Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang.  Gangguan haid dan kemandulan pada perempuan.  Kanker pada hidung, rongga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
  2. Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
  3. Jika terkena mata, yang paling berbahaya adalah terjadinya radang selaput mata.
  4. Jika tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.
Pemakaian formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala: sukar menelan, mual, sakit perut yang akut disertai muntah-muntah, mencret darah, timbulnya depresi susunan syaraf, atau gangguan peredaran darah. Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi (kejang-kejang), haematuri (kencing darah) dan haimatomesis (muntah darah) yang berakhir dengan kematian. Injeksi formalin dengan dosis 100 gr dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam.

Secara organoleptic, produk ikan yang terkena formalin dicirikan Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk; tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bau menyengat.

Penyuluh perikanan PNS sebagai wakil  pemerintah di lapangan, perlu mengindahkan fatwa tersebut dengan menyampaikan secara persuasif larangan kepada pelaku utama dan pelaku usaha jika terdapat penyalahgunaan formalin dalam penanganan dan pengolahan ikan.  Fatwa MUI selengkapnya dapat diunduh di LINK INI.

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.

Wednesday, 29 October 2014

Sweeteners as food additives (by EFSA)

Sweeteners are food additives which are used:
  1. To impart a sweet taste in foodstuffs
  2. As table-top sweeteners

As for all food additives, sweeteners are regulated substances which are subject to safety evaluation prior to market authorisation. In the European Union (EU), the European Commission, Parliament and Council regulate the use of food additives; in particular, the Commission and Member States decide which additives can be used in foods and at what levels. All food additives are included in the ingredient lists on product labels which must identify both the function of the food additive in the finished food (i.e. sweetener) and the specific substance used either by referring to the appropriate E number or its name (e.g. E 954 for ‘Saccharin’).

EFSA's role

  • Evaluating the safety of new sweeteners before they can be authorised for use in the EU
  • Re-evaluating all sweeteners already permitted for use in the EU before 20 January 2009
  • Responding to ad-hoc requests from the European Commission to review certain sweeteners in the light of new scientific information and/or changing conditions of use.
As part of its safety evaluations of food additives EFSA establishes, when possible (i.e. when sufficient information is available), an Acceptable Daily Intake (ADI) for each food additive or group of additives with similar properties. The ADI is the amount of a substance that people can consume on a daily basis during their whole life without any appreciable risk to health. ADIs are usually expressed in milligrams or micrograms per kg of body weight per day (mg/kg or μg/kg bw/day). When re-evaluating previously authorised food additives, EFSA may confirm, amend or even withdraw an existing ADI following a review of all available scientific information.

In the area of health claims, EFSA has also evaluated some claims of beneficial health effects for consumers related to intense sweeteners.

EU framework

All food additives must undergo a safety evaluation by EFSA prior to their market authorisation by EU risk managers (European Commission, Member States and European Parliament). Regulation EC 1331/2008 introduced a common authorisation procedure for food additives, food enzymes and flavourings. Regulation EC 1333/2008 on food additives, which entered into force in January 2010, established a Union list of authorised food additives The Union list, including the name of the food additives and their E numbers, the foods in which the food additives can be used and the conditions of use, is published in Regulation EU 1129/2011 and took effect on 1 June 2013.

Regulation EC 1333/2008 states that all food additives authorised for use in the EU prior to 20 January 2009 should be subject to a new risk assessment by EFSA. Regulation EU 257/2010 establishes a programme for the re-evaluation of approved food additives, the details of which are in Annex II. The deadlines for the re-evaluations vary by group. As sweeteners were evaluated most recently prior to 2009, they are scheduled to be the last group of food additives to be re-evaluated by 2020. The timetable may be adjusted should a safety concern arise for an individual food additive and/or should new scientific data be made available requiring further review ahead of the agreed deadline. All sweeteners authorised under previous legislation (Directive 94/35/EC on sweeteners) are allowed until their review is complete.

Health claims

Regulation EC 1924/2006 lays down harmonised EU-wide rules for the use of health or nutritional claims on foodstuffs based on nutrient profiles. Under this legislation, EFSA is responsible for verifying the scientific substantiation of the submitted claims. EFSA’s scientific advice serves as a basis for the European Commission and Member States, who then decide whether to authorise the claims.

EFSA's activities

EFSA’s Panel on Food Additives and Nutrient Sources Added to Food (ANS Panel) carries out risk assessments and provides scientific advice on food additives used as sweeteners. EFSA’s Panel on Dietetic Products, Nutrition and Allergies (NDA Panel) is responsible for verifying the scientific substantiation of health claims related to intense sweeteners and suggested beneficial effects for consumers.

Aspartame

Aspartame (E 951) is a low-calorie, intense artificial sweetener. In Europe it is authorised for use as a food additive in various foodstuffs and as a table-top sweetener. In May 2011, EFSA was asked by the European Commission to bring forward the full re-evaluation of the safety of aspartame from 2020. EFSA accepted this mandate and held a public consultation on its draft scientific opinion in early 2013. The Authority is scheduled to publish its first full risk assessment of aspartame by November 2013. For more information see the topic on aspartame:

Advantame

Advantame is an intense artificial sweetener derived by chemical synthesis from isovanillin and aspartame. The chemical properties of the advantame molecule are different than those of aspartame. Depending on how it is used, the sweetness of advantame can be hundreds or even thousands of times greater than that of sugar or other intense sweeteners. For example, 50 times less advantame than aspartame would be needed for use in flavoured drinks.

In June 2010, EFSA received a request for a scientific opinion on the safety of advantame as a food additive for use in several food categories. In 2011, following a preliminary evaluation of data submitted by the applicant, experts on EFSA’s ANS Panel determined that there was a need for further information on the toxicokinetics (that is, what happens to a chemical when it enters the body) and the immunotoxicity (possible adverse effects on the immune system) of advantame.

In July 2013, following the evaluation of additional data submitted by the applicant, EFSA’s experts concluded that advantame and its metabolites are neither genotoxic nor carcinogenic and pose no safety concern for consumers at the proposed uses and use levels as a sweetener. The ANS Panel set an Acceptable Daily Intake (ADI) of 5 mg/kg bw/day, in line with the ADI established by the Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) in 2013. The Panel’s conservative estimates of exposure to advantame considering, for the proposed use levels in foods, high levels of consumption in adults and children are significantly below the ADI.

Following publication of EFSA’s scientific advice, EU decision-makers (European Commission, European Parliament and Member States) will decide whether or not to authorise advantame for use as a sweetener in the EU.

Steviol glycosides

Steviol glycosides (E 960) are mixtures of steviol glycosides used a sweetener and extracted from the leaves of the stevia plant. This sweetener has up to 300 times the sweetness of sugar but an almost negligible effect on blood glucose levels; hence it is considered by some as an attractive substitute for sugar.

In a scientific opinion published in April 2010, the ANS Panel concluded that steviol glycosides are neither genotoxic nor carcinogenic and established an ADI of 4 mg/kg bw/day, in line with the recommendation of the Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) in 2008. The Panel noted, however, that this ADI could be exceeded by both adults and children if this sweetener was used at the maximum levels proposed by the applicants.

Following a request from the European Commission in January 2011, EFSA reviewed its previous assessment of consumer exposure to this sweetener based on revised levels of use proposed by the applicants. The ANS Panel concluded that although the revised exposure estimates were slightly lower than those in its April 2010 opinion, adults and children who are high consumers of foods containing steviol glycosides, could still exceed the ADI established by the Panel if the sweetener is used at the maximum levels proposed.

In November 2011, the Commission adopted Regulation EU 1131/2011 which granted authorisation of the use of steviol glycosides as a sweetener in food. The food additive was assigned number ‘E 960’ and added to the official EU list of authorised food additives. Given that EFSA’s opinion indicated high consumers might exceed the ADI, the Commission may ask EFSA to perform a new refined exposure assessment, taking into account the actual uses of steviol glycosides in the different subcategories of foodstuffs in which the sweetener is authorised once these data become available.

Health claims related to intense sweeteners

In 2011, EFSA’s NDA Panel evaluated the substantiation of claims related to intense sweeteners and certain proposed beneficial health effects. The Panel concluded that there is sufficient scientific information to support the claims that intense sweeteners as all sugar replacers lead to a lower rise in blood sugar levels after meals if consumed instead of sugars, and maintain tooth mineralisation by decreasing tooth demineralisation again if consumed instead of sugars. However, EFSA’s experts could find no clear cause and effect relationship to substantiate the claims that intense sweeteners when replacing sugars maintain normal blood sugar levels, or maintain/achieve a normal body weight.

Source: http://www.efsa.europa.eu/en/topics/topic/sweeteners.htm

Test kit kami paling murah di Indonesia, Silahkan buktikan..!!

DETAIL PRODUK KAMI KLIK DISINI | DAFTAR HARGA KLIK DISINI | PROSEDUR PEMESANAN KLIK DISINI

Salam Hangat
www.testkitshop.com | www.etgroupbiz.com | www.easytestinfo.com

Note: ET Group memproduksi beberapa test kit analisis mutu pangan bermerk Easy Test dengan jenis varian antara lain Test Kit Formalin, Test Kit Boraks, Test Kit Methanil Yellow, Test Kit Rhodamine B, Test Kit Mutu Pangan 4 Varian, Test Kit Formalin Paket Industri, TEST KIT MUTU PANGAN 4 VARIAN (PAKET INDUSTRI), Test Kit Sianida, Test Kit Peroksida, Test Kit Hipoklorit (Kaporit), Test Kit Siklamat, Test Kit Sakarin, Test Kit Asam Salisilat, Test Kit Alkalinitas (Alkalinity), Test Kit Asam Sorbat, Test Kit Benzoat, Test Kit Oksalat (Oxalate), Test Kit Tiosianat (Thiocyanate), Test Kit Nitrit, Test Kit Iodat, Test Kit Oksalat, Test Kit Potassium Bromate (Kalium Bromat) dan macam-macam test kit lainnya.